Cahaya matahari hanya bisa mengintip dari sela-sela pepohonan yang masih rimbun di musim peralihan ketika kami sampai di Dusun Pokoh 1, dimana lokasi Air Terjun Lepo berada. Lepo sendiri merupakan kependekan dari kata Ledok Pokoh, yang berarti lembah di Dusun / Desa Pokoh. Mengikuti jalanan menurun dan ber-semen, akhirnya kami sampai di lokasi air terjun sekaligus pemandian alami di pelosok Dlingo ini.
Terlihat beberapa remaja dan anak-anak asyik berenang dengan pelampung sambil bercanda dan sesekali melompat dari batu besar di tepi kolam. Tak ingin mengganggu keasyikan mereka, kami berjalan menuju kolam di bagian bawah yang lebih sepi.
Air terjun Lepo memang tak hanya memiliki satu kolam alami untuk berenang dan bermain air. Sekilas Lepo sangat mirip dengan Erawan Falls di Erawan National Park, di Thailand. Ada 4 tingkat kolam alami yang dihubungkan oleh 3 air terjun di tempat wisata yang mulai dikembangkan tahun 2013 ini.
Masing-masing kolam alami memiliki kedalaman yang beragam. Kolam pertama yang kami lihat ketika sampai tempat wisata ini kedalamannya mencapai 2 meter. Di kolam inilah remaja maupun orang dewasa biasanya berenang.
Menyusuri jalan setapak dan tangga batu di sisi air terjun, kami sampai di tingkatan kolam kedua. Kolam yang paling luas ini kedalamannya hanya sebatas pinggang orang dewasa, sehingga lebih aman jika anak-anak bermain air di kolam ini.
Meskipun tak jarang anak-anak memilih berenang di kolam pertama. Kolam kedua ini dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang tersusun eksotis. Sebuah titian batu dan selokan kecil menambah kecantikannya. Ceruk batu di salah satu sisi kolam menjadi spot terbaik menikmati air terjun di tingkat ini. Tampak beberapa remaja asyik memanfaatkan ceruk batu ini untuk ber-groufie. Sedangkan sebagian lainnya lebih memilih bermain air di dekat air terjun.
Tingkat ketiga adalah kolam yang paling dangkal, hingga bagian dasarnya yang tertutup endapan kapur pun terlihat dari permukaan air. Kami kembali menyusuri jalan setapak dan tangga-tangga batu untuk sampai di kolam ketiga.
Bagian yang menarik di kolam ketiga adalah tebing-tebing batu di sekitar air terjun yang berbentuk balok, seolah sengaja dipotong oleh tangan-tangan manusia. Karena tak ada persiapan baju ganti, kami harus puas hanya bermain air di kolam yang kedalamannya hanya mencapai lutut orang dewasa ini. Padahal, sejak pertama kali melihat warna turquoise yang mengisi kolam-kolam Air Terjun Lepo, kami sudah tak sabar untuk menceburkan diri ke dalam segarnya air. Tak berhenti di kolam ketiga, air terus mengalir ke kolam keempat sekaligus kolam terakhir. Tingkatan ini kira-kira sama dalamnya dengan kolam pertama namun jauh lebih sempit.
Sejuknya udara pegunungan dan keseruan bermain air telah menyihir kami hingga lupa kalau perut sudah mulai berdendang. Untungnya di sekitar Air Terjun Lepo sudah banyak warung-warung makan sederhana yang menyajikan beragam menu.
Selain warung-warung makan, pengelola tempat wisata ini juga menyediakan kamar mandi, aula sederhana serta persewaan pelampung dan tikar. Serunya, untuk menikmati kecantikan Air Terjun Lepo, kita hanya perlu memberikan retribusi seikhlasnya serta yang paling penting adalah tetap menjaga kebersihan dan keindahannya dengan tidak menggunakan kreatifitas tangan yang terkesan berlebihan.
Komentar Berhadiah :
Tinggalkanlah komentar yang dapat membantu wisatawan pada kolom komentar yang dapat memudahkan calon pengunjung lainnya. Akan kami pilih 5 komentar terbaik untuk masing-masing mendapatkan bingkisan kami. Untuk pengumuman pemenang akan kita share pada kolom komentar, juga melalui facebook / google + / instagram pada setiap tanggal 31 Desember " setiap tahun nya ".
RENTAL Motor / Mobil, Tour - Travel Guide & Organizer, silahkan Chat via Whatsapp +62811265377






Tidak ada komentar:
Posting Komentar